Jumat, 07 November 2014

Pemuda dan Indonesia

"Berikan aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia."  

Kutipan dari Bapak Ir. Soekarno di atas membawa banyak makna akan kuatnya pengaruh pemuda dan pemudi di Indonesia. Pemuda yang masih terkenal akan kegesitan, kelincahan, dan keberanian bermimpi dipercaya banyak orang dapat mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Dan memang hal tersebut terbukti di keadaan Indonesia saat ini. Banyak pemuda dan pemudi yang masih semangat melanjutkan studinya, berpkiran kritis, dan juga sangat melek akan teknologi. Siapa sih pemuda saat ini yang tidak tahu siapa salah satu tokoh pendidikan di Indonesia, atau bagaimana keadaan Indonesia saat ini, atau bahkan bagaimana cara mengoperasikan handphone? Hampir seluruh pemuda di Indonesia pasti tahu.

Inilah kondisi pemuda Indonesia saat ini, mereka bukan lagi hanya menjadi pemuda yang cuma sekedar ngumpul untuk sekedar main, melainkan menjadi pemuda yang berkumpul untuk belajar. Bukan lagi hanya sekedar nyoblos untuk Pemilu Presiden, melainkan ikut terjun dalam kampanye walaupun hanya dalam media sosial. Pemuda Indonesia saat ini membentuk kepribadian yang nasionalis, dan berpikiran secara luas dan mendunia. Teknologi pun sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan, mencari tahu tentang perkembangan teknologi saat ini adalah suatu keharusan bagi mereka. Memegang gadget canggih pun, mereka sudah terbiasa.

Seperti hal-hal lainnya, sesuatu yang positif pastinya memiliki hal negatif. Pemuda dan pemudi Indonesia pun memiliki sisi negatif. Banyak pemuda dan pemudi Indonesia yang merasa pemikirannya sudah benar, sehingga mereka cenderung menjadi apatis terhadap pemikiran-pemikiran lainnya. Dan juga kebanyakan dari mereka belum memiliki gagas pikiran yang konkrit, menyebabkan mudahnya mereka terombang-ambing terbawa arus banyak pikiran, membuat mereka menjadi sosok yang labil. Serta banyak dari mereka yang menjadi budak teknologi, merasa perlu untuk aktif di dunia sosial media, menjadikan mereka anti sosial dalam kehidupannya sendiri.

Namun sayangnya, keadaan di atas hanya dominan di kota-kota besar, dimana pendidikan yang menjadi tolak ukur kemajuan bangsa mempunyai program dan fasilitas yang lengkap, membuktikan bahwa pemerataan pendidikan di Indonesia belum cukup berhasil. Di kota-kota besar, metode pengajaran dan program pengajaran sudah lengkap, mencari akses transportasi untuk ke instansi pendidikan pun mudah, pengajar yang dipilih berkualitas, fasilitas pembelajaran pun mudah didapatkan. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan di kota atau desa terpencil. Semua fasilitas, program, tenaga kerja, akses transportasi, sulit untuk didapatkan.

Pola pikir dan keadaan ekonomi masyarakat yang berbeda juga menyebabkan berhasil atau tidaknya pemerataan pendidikan di Indonesia. Walaupun Indonesia terlihat sudah lebih baik, masih ada beberapa masyarakat yang tetap berpikiran bahwa pendidikan tidak penting, menyebabkan mereka hanya mengenyam pendidikan seadanya. Program pendidikan gratis di sekolah Negeri yang ditujukan untuk anak berprestasi yang kurang mampu, terkadang malah digunakan oleh anak dari orang-orang yang berkecukupan yang memiliki banyak fasilitas penunjang pembelajaran yang dapat mendongkrak prestasi. Menyebabkan anak yang kurang mampu tidak mempunyai pilihan lain untuk pendidikan; sekolah swasta, atau bekerja.

Maka dari itu, kita sebagai pemuda dan pemudi Indonesia yang beruntung, harus menggunakan ilmu yang kita miliki dalam membangun Indonesia, Berpikir kritis lah dalam bertindak. Menerima semua informasi yang kita dapat, namun juga bisa memilah mana informasi yang sesuai dan yang tidak. Merasa hauslah akan ilmu dan teknologi, asal kita tetap acuh dengan lingkungan kita. Serta, amalkan lah ilmu dan rejeki yang kita miliki dengan mengajar dan membantu saudara kita yang kurang beruntung. Sebagai pemuda Indonesia, banyak yang dapat kita lakukan untuk bangsa ini.

Karena masa depan Indonesia, ada di tangan kita!!!



Sumber:
http://akinini.com/keyakinan/beri-aku-10-pemuda-kuguncang-dunia-soekarno/140

Tidak ada komentar:

Posting Komentar