Hari ini aku dikejutkan oleh satu postingan dari kamu, orang yang selama ini aku perjuangkan.
Wow.
Menakjubkan.
Ternyata dalam hitungan hari, kamu bisa berubah seperti ini.
Lupa, minggu lalu kamu bilang apa?
Menjilat ludah sendiri? Aku kira kamu sudah biasa.
Percayalah, bukan rasa sedih yang aku terima.
Kamu tahu benci? Atau sakit?
Ya tentu saja aku merasakannya!!!
Terlebih untuk seseorang yang aku perjuangkan mati-matian didepan keluarga dan temanku.
Tak usah kau beralaskan ini karena keluarga.
Bohong.
Pada awalnya kau memang sudah cinta dirinya.
Tapi aku terlalu bodoh untuk percaya kata manismu untuk kembali.
Ah aku ingin cinta itu.
Tapi yang aku percaya hanyalah seorang pembohong.
Kasar? Oh tidak.
Coba kau lihat dirimu. Pantas kah kubilang kau pembohong?
Tapi aku ikhlas. Lebih mudah menerima.
Karena dari awal aku juga tidak terlalu yakin masih merasakan yang sama atau tidak.
Aku hanya mengikuti ego.
Egoku yang kuat untuk dirimu yang lemah berkomitmen.
Tentu saja tidak akan bersatu.
Diriku ini keras. Harus dipasangkan dengan orang yang keras.
Terutama dalam berkomitmen.
Tapi, untuk disandingkan dengan dirimu yang tidak bisa menjaga ucapan?
Kukira apa yang terjadi sekarang sudah sangat tepat.
Aku tidak ingin lagi bermain-main dalam hubungan.
Aku sibuk membenahi studi dan kegiatanku.
Jadi kalau kamu mau main-main, silahkan saja.
Bagiku, penyesalan memang selalu ada di akhir.
Mumpung belum menyesal, maka nikmatilah.
Tapi saat kamu sadar, tengoklah kebelakang.
Kau hanya akan bisa mengenang senyumku.
Sedang diriku?
Aku sudah beranjak pergi mulai hari ini.
Berjalan jauh melampauimu.
Lihat punggungku.
Itu adalah punggung yang rela tercabik demi melindungi dirimu.
Tapi sekarang aku tidak ada untuk melindungimu.
Aku didepan, kau melihat punggungku.
Lukaku mulai pulih dan kau hanya akan melihatnya.
Roda memang berputar.
Saat kau di atas, kau bebas.
Saat kau di bawah, kau tercekik.
Dan jangan kau cari aku lagi.
Jangankan peduli.
Ingat dirimu saja aku lebih baik mati.
Jadi, selamat tinggal.
Aku tidak akan mendoakanmu menyesal.
Hanya saja, penyesalan itu akan datang.
Entah kapan.
Persiapkan dirimu.
Selamat tinggal.
Minggu, 29 Mei 2016
Sabtu, 28 Mei 2016
Simple
Aku kira konsep cinta itu mudah.
Kita saling mencintai, kita saling berjuang, kita saling menggenggam.
Lalu hidup tertawa.
Aku bodoh katanya.
Ternyata cinta itu hal yang sederhana yang dibalut dengan sejuta kerumitan.
Mulai dari keluarga yang tidak setuju, bahkan sampai pasanganmu yang jadi jahat.
Lalu aku hanya termenung karena cinta yang kupunya hanya disia-siakan.
Salahku, atau salah pasanganku?
Tapi dari semua hal yang menyakitkan, hanya ada satu yang benar-benar menusuk.
Ketika akhirnya kamu sadar, bahwa hanya kamu yang berjuang.
Hanya kamu yang menginginkan hubungan ini.
Saat orang lain hanya mendiamkan bahkan mencerca.
Aku berhak bahagia dengan orang yang kucinta.
Tidak peduli apapun itu yang akan menghadang nanti.
Aku berhak memilih.
Aku berhak bersama orang yang kucinta.
Tapi, lagi dan lagi stereotip orang tua yang berbicara.
Jangan. Kau tidak akan hidup dengan baik jika bersamanya.
Oh, Tuhan.
Sejak kapan kau mengajarkan bahwa hidup itu mudah?
Kau bahkan berfirman bahwa tidak akan ada yang merubah keadaan suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya.
Lalu haruskah aku membiarkannya dalam keterpurukan?
Aku ingin bahagia meski aku harus berjuang bersamanya.
Tapi, aku hanya anak kecil dibawah naungan orangtua.
Bisa apa?
Yang lebih menyakitkan lagi, ketika kau berjuang, pasanganmu hanya diam.
Kenapa tidak tinggal?
Kenapa tidak berjuang?
Kenapa tidak berusaha membuktikan?
Ah, sudahlah.
Aku muak dengan semua drama kehidupan ini.
Apa yang aku inginkan selalu saja bertentangan dengan orang-orang.
Mereka tidak akan mengerti.
Lebih parahnya, orang yang kau anggap partner juga hanya diam.
Dia cuma berpangku tangan.
Seolah-olah acuh dengan aku yang sedang berusaha.
Bodoh.
Aku bodoh.
Mereka bodoh.
Semua bodoh.
Hidup ini bodoh.
Aku ingin pergi.
Kita saling mencintai, kita saling berjuang, kita saling menggenggam.
Lalu hidup tertawa.
Aku bodoh katanya.
Ternyata cinta itu hal yang sederhana yang dibalut dengan sejuta kerumitan.
Mulai dari keluarga yang tidak setuju, bahkan sampai pasanganmu yang jadi jahat.
Lalu aku hanya termenung karena cinta yang kupunya hanya disia-siakan.
Salahku, atau salah pasanganku?
Tapi dari semua hal yang menyakitkan, hanya ada satu yang benar-benar menusuk.
Ketika akhirnya kamu sadar, bahwa hanya kamu yang berjuang.
Hanya kamu yang menginginkan hubungan ini.
Saat orang lain hanya mendiamkan bahkan mencerca.
Aku berhak bahagia dengan orang yang kucinta.
Tidak peduli apapun itu yang akan menghadang nanti.
Aku berhak memilih.
Aku berhak bersama orang yang kucinta.
Tapi, lagi dan lagi stereotip orang tua yang berbicara.
Jangan. Kau tidak akan hidup dengan baik jika bersamanya.
Oh, Tuhan.
Sejak kapan kau mengajarkan bahwa hidup itu mudah?
Kau bahkan berfirman bahwa tidak akan ada yang merubah keadaan suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya.
Lalu haruskah aku membiarkannya dalam keterpurukan?
Aku ingin bahagia meski aku harus berjuang bersamanya.
Tapi, aku hanya anak kecil dibawah naungan orangtua.
Bisa apa?
Yang lebih menyakitkan lagi, ketika kau berjuang, pasanganmu hanya diam.
Kenapa tidak tinggal?
Kenapa tidak berjuang?
Kenapa tidak berusaha membuktikan?
Ah, sudahlah.
Aku muak dengan semua drama kehidupan ini.
Apa yang aku inginkan selalu saja bertentangan dengan orang-orang.
Mereka tidak akan mengerti.
Lebih parahnya, orang yang kau anggap partner juga hanya diam.
Dia cuma berpangku tangan.
Seolah-olah acuh dengan aku yang sedang berusaha.
Bodoh.
Aku bodoh.
Mereka bodoh.
Semua bodoh.
Hidup ini bodoh.
Aku ingin pergi.
Selasa, 24 Mei 2016
It Is Not Over Yet.
Sudah empat bulan beranjak pergi saat akhirnya aku putuskan untuk pergi.
Banyak hal-hal yang berubah.
Banyak hal-hal yang sudah kulewati.
Banyak orang-orang yang datang menghampiri, menawarkan diri untuk menjadi pengganti.
Dan sudah kuberikan satu kali untuk orang yang menurutku pantas.
Namun akhirnya aku pergi lagi.
Bukan, bukan karena aku bodoh.
Atau karena aku sombong.
Aku hanya ingin sendiri sampai hati siap lagi.
Hari ini, aku buka lembaran masa lalu yang tersimpan.
Ah...cinta.
Indah sekali kehadiranmu dulu.
Kisah kita berbalut putih abu-abu.
Saling menjaga hingga kadang terasa pilu.
Rasa ego anak-anak masih kental terasa ketika kulihat permasalahan kita dulu.
Tapi dari berbagai kenangan, aku melihat satu yang utuh...
Bahwa sebenarnya kita saling mencinta.
Bahwa kita saling menjaga agar tidak ada yang tersakiti.
Meskipun cara kita salah.
Mungkin hanya percaya yang kurang dalam diri.
Hingga menjadi milik seutuhnya adalah satu-satunya jalan yang kita pikir benar.
Aku masih ingat bagaimana rasanya tertawa bersama.
Masih ingat saat kita bercanda sampai terpingkal.
"Kalau kita menikah nanti..."
Kalimat yang benar-benar membuat tersipu malu.
Bayangan masa depan terpeta jelas dalam benak kita berdua.
Kita percaya bahwa kita sampai.
Namun, kita hanyalah anak remaja.
Belum memikirkan pahitnya realita yang sekarang sudah dirasakan.
Maka, maafkanlah kita yang dulu.
Kita yang sekarang...
Mulai berusaha menerima keadaan yang sebenarnya tidak ingin kita jalani.
Berusaha membahagiakan orang-orang yang kadang membuat kita jatuh.
Mata kita bukanlah mata anak remaja yang hanya memikirkan cinta.
Mata kita adalah mata seseorang yang berusaha matang untuk cita-cita.
Maka jalani semua yang menurut kita benar.
Maafkanlah masing-masing dari kita.
Agar lancar perasaan kedepannya.
Namun, perasaan itu sebenarnya masih ada pada kita.
Kita hanya dituntut untuk lebih dewasa dalam pembuktian.
Maka, biarlah waktu yang menjawab.
Karena pada dasarnya perasaan menjalar ke depan.
Entah semakin memudar, atau semakin menguat.
Aku mencoba ikhlas meski sebenarnya terasa berat.
Hanya, aku tidak ingin kamu merasakan ego anak kecilku dulu.
Cerita ini belum selesai.
Ayo kita selesaikan dalam diam.
Dalam doa dimana aku yakin kita akan bertemu dan bersapa.
Dimana tempat kita saling bergandeng tangan, menceritakan hari-hari yang melelahkan.
Dimana tempat kita saling berkeluh kesah dan berdiskusi.
Tempat dimana kita saling menguatkan dan tertawa bersama.
Aku yakin masih ada hal itu dalam dirimu.
Bahwa sebenarnya kita hanya ingin...
Pulang.
Selasa, 24 Mei 2016
Dari Aku.
Gadis 18 tahun yang rindu.
Banyak hal-hal yang berubah.
Banyak hal-hal yang sudah kulewati.
Banyak orang-orang yang datang menghampiri, menawarkan diri untuk menjadi pengganti.
Dan sudah kuberikan satu kali untuk orang yang menurutku pantas.
Namun akhirnya aku pergi lagi.
Bukan, bukan karena aku bodoh.
Atau karena aku sombong.
Aku hanya ingin sendiri sampai hati siap lagi.
Hari ini, aku buka lembaran masa lalu yang tersimpan.
Ah...cinta.
Indah sekali kehadiranmu dulu.
Kisah kita berbalut putih abu-abu.
Saling menjaga hingga kadang terasa pilu.
Rasa ego anak-anak masih kental terasa ketika kulihat permasalahan kita dulu.
Tapi dari berbagai kenangan, aku melihat satu yang utuh...
Bahwa sebenarnya kita saling mencinta.
Bahwa kita saling menjaga agar tidak ada yang tersakiti.
Meskipun cara kita salah.
Mungkin hanya percaya yang kurang dalam diri.
Hingga menjadi milik seutuhnya adalah satu-satunya jalan yang kita pikir benar.
Aku masih ingat bagaimana rasanya tertawa bersama.
Masih ingat saat kita bercanda sampai terpingkal.
"Kalau kita menikah nanti..."
Kalimat yang benar-benar membuat tersipu malu.
Bayangan masa depan terpeta jelas dalam benak kita berdua.
Kita percaya bahwa kita sampai.
Namun, kita hanyalah anak remaja.
Belum memikirkan pahitnya realita yang sekarang sudah dirasakan.
Maka, maafkanlah kita yang dulu.
Kita yang sekarang...
Mulai berusaha menerima keadaan yang sebenarnya tidak ingin kita jalani.
Berusaha membahagiakan orang-orang yang kadang membuat kita jatuh.
Mata kita bukanlah mata anak remaja yang hanya memikirkan cinta.
Mata kita adalah mata seseorang yang berusaha matang untuk cita-cita.
Maka jalani semua yang menurut kita benar.
Maafkanlah masing-masing dari kita.
Agar lancar perasaan kedepannya.
Namun, perasaan itu sebenarnya masih ada pada kita.
Kita hanya dituntut untuk lebih dewasa dalam pembuktian.
Maka, biarlah waktu yang menjawab.
Karena pada dasarnya perasaan menjalar ke depan.
Entah semakin memudar, atau semakin menguat.
Aku mencoba ikhlas meski sebenarnya terasa berat.
Hanya, aku tidak ingin kamu merasakan ego anak kecilku dulu.
Cerita ini belum selesai.
Ayo kita selesaikan dalam diam.
Dalam doa dimana aku yakin kita akan bertemu dan bersapa.
Dimana tempat kita saling bergandeng tangan, menceritakan hari-hari yang melelahkan.
Dimana tempat kita saling berkeluh kesah dan berdiskusi.
Tempat dimana kita saling menguatkan dan tertawa bersama.
Aku yakin masih ada hal itu dalam dirimu.
Bahwa sebenarnya kita hanya ingin...
Pulang.
Selasa, 24 Mei 2016
Dari Aku.
Gadis 18 tahun yang rindu.
Langganan:
Komentar (Atom)