Aku kira konsep cinta itu mudah.
Kita saling mencintai, kita saling berjuang, kita saling menggenggam.
Lalu hidup tertawa.
Aku bodoh katanya.
Ternyata cinta itu hal yang sederhana yang dibalut dengan sejuta kerumitan.
Mulai dari keluarga yang tidak setuju, bahkan sampai pasanganmu yang jadi jahat.
Lalu aku hanya termenung karena cinta yang kupunya hanya disia-siakan.
Salahku, atau salah pasanganku?
Tapi dari semua hal yang menyakitkan, hanya ada satu yang benar-benar menusuk.
Ketika akhirnya kamu sadar, bahwa hanya kamu yang berjuang.
Hanya kamu yang menginginkan hubungan ini.
Saat orang lain hanya mendiamkan bahkan mencerca.
Aku berhak bahagia dengan orang yang kucinta.
Tidak peduli apapun itu yang akan menghadang nanti.
Aku berhak memilih.
Aku berhak bersama orang yang kucinta.
Tapi, lagi dan lagi stereotip orang tua yang berbicara.
Jangan. Kau tidak akan hidup dengan baik jika bersamanya.
Oh, Tuhan.
Sejak kapan kau mengajarkan bahwa hidup itu mudah?
Kau bahkan berfirman bahwa tidak akan ada yang merubah keadaan suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya.
Lalu haruskah aku membiarkannya dalam keterpurukan?
Aku ingin bahagia meski aku harus berjuang bersamanya.
Tapi, aku hanya anak kecil dibawah naungan orangtua.
Bisa apa?
Yang lebih menyakitkan lagi, ketika kau berjuang, pasanganmu hanya diam.
Kenapa tidak tinggal?
Kenapa tidak berjuang?
Kenapa tidak berusaha membuktikan?
Ah, sudahlah.
Aku muak dengan semua drama kehidupan ini.
Apa yang aku inginkan selalu saja bertentangan dengan orang-orang.
Mereka tidak akan mengerti.
Lebih parahnya, orang yang kau anggap partner juga hanya diam.
Dia cuma berpangku tangan.
Seolah-olah acuh dengan aku yang sedang berusaha.
Bodoh.
Aku bodoh.
Mereka bodoh.
Semua bodoh.
Hidup ini bodoh.
Aku ingin pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar