Sudah empat bulan beranjak pergi saat akhirnya aku putuskan untuk pergi.
Banyak hal-hal yang berubah.
Banyak hal-hal yang sudah kulewati.
Banyak orang-orang yang datang menghampiri, menawarkan diri untuk menjadi pengganti.
Dan sudah kuberikan satu kali untuk orang yang menurutku pantas.
Namun akhirnya aku pergi lagi.
Bukan, bukan karena aku bodoh.
Atau karena aku sombong.
Aku hanya ingin sendiri sampai hati siap lagi.
Hari ini, aku buka lembaran masa lalu yang tersimpan.
Ah...cinta.
Indah sekali kehadiranmu dulu.
Kisah kita berbalut putih abu-abu.
Saling menjaga hingga kadang terasa pilu.
Rasa ego anak-anak masih kental terasa ketika kulihat permasalahan kita dulu.
Tapi dari berbagai kenangan, aku melihat satu yang utuh...
Bahwa sebenarnya kita saling mencinta.
Bahwa kita saling menjaga agar tidak ada yang tersakiti.
Meskipun cara kita salah.
Mungkin hanya percaya yang kurang dalam diri.
Hingga menjadi milik seutuhnya adalah satu-satunya jalan yang kita pikir benar.
Aku masih ingat bagaimana rasanya tertawa bersama.
Masih ingat saat kita bercanda sampai terpingkal.
"Kalau kita menikah nanti..."
Kalimat yang benar-benar membuat tersipu malu.
Bayangan masa depan terpeta jelas dalam benak kita berdua.
Kita percaya bahwa kita sampai.
Namun, kita hanyalah anak remaja.
Belum memikirkan pahitnya realita yang sekarang sudah dirasakan.
Maka, maafkanlah kita yang dulu.
Kita yang sekarang...
Mulai berusaha menerima keadaan yang sebenarnya tidak ingin kita jalani.
Berusaha membahagiakan orang-orang yang kadang membuat kita jatuh.
Mata kita bukanlah mata anak remaja yang hanya memikirkan cinta.
Mata kita adalah mata seseorang yang berusaha matang untuk cita-cita.
Maka jalani semua yang menurut kita benar.
Maafkanlah masing-masing dari kita.
Agar lancar perasaan kedepannya.
Namun, perasaan itu sebenarnya masih ada pada kita.
Kita hanya dituntut untuk lebih dewasa dalam pembuktian.
Maka, biarlah waktu yang menjawab.
Karena pada dasarnya perasaan menjalar ke depan.
Entah semakin memudar, atau semakin menguat.
Aku mencoba ikhlas meski sebenarnya terasa berat.
Hanya, aku tidak ingin kamu merasakan ego anak kecilku dulu.
Cerita ini belum selesai.
Ayo kita selesaikan dalam diam.
Dalam doa dimana aku yakin kita akan bertemu dan bersapa.
Dimana tempat kita saling bergandeng tangan, menceritakan hari-hari yang melelahkan.
Dimana tempat kita saling berkeluh kesah dan berdiskusi.
Tempat dimana kita saling menguatkan dan tertawa bersama.
Aku yakin masih ada hal itu dalam dirimu.
Bahwa sebenarnya kita hanya ingin...
Pulang.
Selasa, 24 Mei 2016
Dari Aku.
Gadis 18 tahun yang rindu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar