Senin, 29 Juni 2015

Cek Manfaat IBD Yuk!

            Saat saya mencetak Kartu Rencana Studi saya, dan mendapati tertera mata kuliah Ilmu Budaya Dasar, terbersit pertanyaan di kepala saya. “Apa sih manfaat belajar IBD?” ya, pertanyaan tersebut kian menari-nari di otak saya. Tadinya saya tidak terlalu perduli. Namun, setelah satu semester saya diberikan tugas tentang Ilmu Budaya Dasar. Saya paham. Bahwa manfaat IBD menjangkau luas dalam kehidupan saya. Baik secara pribadi, maupun dalam bermasyrakat.
                Setelah saya belajar Ilmu Budaya Dasar, saya jadi mengetahui bahwa untuk hidup dalam suatu lingkungan, tidaklah semudah yang saya kira. Dari IBD, saya jadi tahu bahwa kita diharuskan untuk beradaptasi dan mempunyai toleransi karena budaya-budaya yang tersebar dalam lingkungan kita, berbeda-beda. Melalui IBD, saya juga paham bahwa  hidup tidaklah terlepas dari budaya. Mulai dari kita bangun tidur, sampai tidur lagi, itu adalah hasil dari budaya yang terdapat dalam keluarga.
                Lewat IBD juga, saya tahu bahwa cinta, bukanlah sekedar cinta. Terdapat beberapa definisi yang berbeda dalam cinta, cinta kasih, cinta erotis, dan sebagainya. Membuat saya untuk lebih bersemangat membangun cinta-cinta positif dalam kehidupan saya. IBD juga membuat saya tahu banyak sekali ilmu-ilmu yang bermanfaat dalam diri saya. Seperti harapan dan tanggung jawab, dan sebagainya.
                Lalu, melalui IBD, saya juga lebih termotivasi dalam membuka pikiran saya. Karena tugas yang diberikan haruslah berupa essay yang dikerjakan menurut buah pemikiran sendiri, memaksa saya untuk lebih peka dan berpikiran luas agar tugas saya terasa lebih mudah. Dan secara tidak langsung, membuat saya menjadi lebih termotivasi karena tulisan-tulisan yang tertuang dalam tugas yang saya kerjakan.

                Menarik ya, dalam suatu mata kuliah Ilmu Budaya Dasar, terdapat banyak sekali manfaat yang saya dapatkan. Mulai dari manfaat untuk diri saya sendiri, hingga manfaat sampai ke masyarakat. Penasaran mengenai manfaatnya? Yuk ikut mata kuliah IBD!

Senin, 22 Juni 2015

Harapan dan Tanggung Jawab

                  Sebagai manusia, sudah sewajarnya jika kita memiliki harapan dalam kehidupan. Tentunya harapan ini adalah sesuatu yang bisa saja terjadi apabila kita berusaha untuk mewujudkannya. Namun menurut saya, semakin besar harapan uang kita miliki, makan akan semakin besar tanggung jawab yang akan kita pikul.
                Sebagai contoh pertama, harapan saya sendiri dalam keluarga saya adalah untuk membanggakan dan mengangkat derajat keluarga saya. Dan sebagai konsekuensi atas harapan yang saya miliki, maka saya diwajibkan untuk menjaga nama baik keluarga saya. Seperti menuntut pendidikan hingga bergelar sarjana, bekerja dengan baik, hingga memiliki suami yang lebih baik dari saya. Berat memang, tapi menurut saya dengan harapan ini, saya akan menjadi kebanggaan tersendiri dalam keluarga saya.
                Lalu, harapan saya dalam masyarakat sekitar saya adalah, saya ingin dipandang sebagai seseorang yang berpengaruh baik dalam kehidupan. Lagi dan lagi, harapan saya membawa saya kepada tanggung jawab yang cukup berat, saya diharuskan untuk selalu berpikir sebelum bertindak, memperhitungkan agar semuanya berjalan dengan baik, serta selalu berperilaku sesuai dengan lingkungan saya.
                Yang terakhir, harapan untuk diri saya sendiri, saya berharap agar saya bisa jadi manusia yang bukan hanya sekedar hidup dan bekerja, namun saya selalu ingin menjadi manfaat bagi semua hal dalam hidup saya. Tanggung jawab yang saya miliki tentunya lebih berat dibandingkan dengan tanggung jawab atas harapan saya dalam keluarga dan hidup saya. Karena demi terpenuhnya harapan saya, saya harus melawan diri saya sendiri. Atau bisa disebut, saya harus keluar dari zona nyaman saya.

                Pada faktanya, hidup memang penuh dengan resiko. Apapun hal yang kita pilih dan kita jalani, tentu saja membawa beban tersendiri dalam hidup. Namun, menurut saya, memang itulah tujuan dari hidup. Kita memilih, berharap, dan menjalani. Semoga, apapun yang kita harapkan, dan kita jalani, selalu membawa kebaikan dan keberkahan di setiap langkahnya.

Senin, 15 Juni 2015

Pandangan Hidup

          Sebagai manusia, sudah kodratnya saya memiliki pandangan hidup untuk menunjang kehidupan saya baik saat ini, maupun saat mendatang nanti. Namun, tidak semua orang cukup peduli dengan pandangan hidup masing-masing individu disekitarnya. Biasanya karena pandangan hidup masing-masing dari diri kita berbeda.
                Dan disini, saya akan menjelaskan apa pandangan hidup saya.
                Saya bukanlah tipikal orang yang selalu ingin mempersulit keadaan. Saya selalu ingin sukses. Ya, siapa yang tidak ingin sukses. Semua orang pasti menginginkannya. Namun, alih-alih memperjuangkan hal yang menurut saya tidak akan menimbulkan banyak benefit di kehidupan saya, atau memperjuangkan hanya untuk “gengsi” semata, saya lebih memilih jalan pintas yang menurut saya, adalah yang terbaik. Selama menurut saya dan keluarga saya itu benar, maka saya akan menjalaninya. Hal ini juga berpengaruh kepada saya yang berpikiran bahwa “ridho Allah, adalah ridho orangtua”, saya selalu mempertimbangkan saran dari orangtua saya.
                Dan juga, saya adalah orang yang selalu berpikir bahwa apa yang saya jalani saat ini, adalah jalan terbaik yang Tuhan beri ke saya. Bukan, saya bukanlah seseorang yang pasrah terhadap hidup saya. Saya adalah orang yang “santai namun tetap berusaha”, atau bisa dibilang; saya bukanlah orang yang muluk-muluk. Hal itulah yang selalu membuat saya menghantarkan doa di setiap ibadah untuk selalu diberi yang terbaik dalam hidup saya. Dan yang saya rasakan, pandangan hidup yang saya jalani ini membuat saya benar-benar di jalan yang saya inginkan.
                Tidaklah mudah tentu, untuk memiliki pandangan hidup seperti saya. Saya tidak tahu berapa banyak orang yang mungkin berpikir bahwa saya adalah orang yang putus asa, atau pemalas, atau apapun. Tersenyum saja. Saya tahu apa yang saya jalani saat ini. Cukup tersenyum, dan biarkan waktu yang menjawab. Biarlah saya yang mereka anggap putus asa, menjadi orang yang ternyata meraih banyak mimpi dalam hidupnya.
                Berdoa dan berdoa, itulah kunci utama dalam memiliki pandangan hidup yang baik. Karena setinggi apapun impian kita, sekecil apapun kemungkinan, tetap, Tuhan adalah pembuat keputusan yang terbaik. Itulah kenapa kita sebagai hamba-Nya diwajibkan untuk selalu berprasangka baik terhadap-Nya. Jika tuhan sudah menggariskan diri kita dalam keputusan-Nya, maka kita harus selalu terus bersyukur dan tawakal.

Senin, 25 Mei 2015

Manusia dan Keadilan

       Keadilan adalah bagian dari kehidupan. Sebagai manusia, kita dituntut untuk hidup adil dalam keseharian kita. Keadilan memberikan keberanian, ketegasan dan suatu jalan tengah dari berbagai persoalan juga tidak memihak kepada siapapun. Dan bagi yang berbuat adil merupakan orang yang bijaksana. Contoh sederhana dari suatu keadilan adalah, seorang membagi rata kue buatannya kepada kedua anaknya. Hal tersebut akan menimbulkan kedamaian, serta perasaan nyaman dalam hati anak-anaknya.

         Dalam Ilmu Budaya Dasar, terdapat beberapa pendapat tokoh mengenai keadilan. Diantara lain:
  • Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. 
  • Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
  • Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan akan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat.
  • Kong Hu Cu berpendapat bahwa keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya.
        Namun, keadilan juga tidak harus melulu mendapat pembagian yang sama. Ada juga keadilan yang bernama Keadilan Distributif, yaitu keadilan yang dilakukan bilamana hal-hal sama diperlakukan secara sama, sedangkan hal yang tidak sama, diperlakukan secara tidak sama. Hal ini beracuan kepada teori dari Aristoteles yaitu “justice is done when equals are treated equally”.

        Contoh dari keadilan distributif ini dapat kita lihat pada perusahaan-perusahaan yang biasanya memiliki karyawan. Contoh: apabila terdapat dua karyawan, dimana satu karyawan bekerja selama dua tahun, sedangkan karyawan lainnya bekerja selama lima bulan; seseorang yang akan mendapatkan gaji lebih besar pastilah seseorang yang bekerja lebih lama pada perusahaan tersebut.

        Jadi, sebagai manusia, kita wajib memiliki rasa adil terhadap hidup kita. Namun, tidak semua hal dapat diperlakukan secara sama. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan kita untuk berperilaku adil secara distributif, demi tercapainya kemudahan, dan kebijaksanaan dalam hidup.


Sumber:
(Nugroho,W,.&Muchji,A. (1996). Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Universitas Gunadarma)

Minggu, 10 Mei 2015

Manusia dan Derita

Manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan, pastilah diberikan ujian dengan tujuan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, ujian dari Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah. Terkadang, ujian dari Tuhan dapat menimbulkan penderitaan. Namun, sebagai umat-Nya, kita haruslah percaya bahwa akhir dari penderitaan ini bersifat baik, apabila kita menyikapinya dan terus berjuang untuk mengakhiri penderitaan yang kita alami.

Penderitaan dalam hidup manusia dibagi dalam dua macam; yaitu penderitaan secara fisik, atau psikis. Penderitaan secara fisik, dapat dicontohkan seperti pemerkosaan, pembunuhan, pukulan, dsb. Namun penderitaan secara fisik dapat disembuhkan dengan cukup mudah. Lain halnya dengan penderitaan secara psikis. Orang yang menderita secara psikis cenderung merasa kesepian, takut berlebihan pada sesuatu (phobia), atau rasa cemas yang berlebihan. Penderitaan secara psikis bukanlah suatu penderitaan yang dapat dilihat langsung. Melainkan, tersimpan dalam individu tersebut, dan membutuhkan penyembuhan dari dirinya, dan bantuan profesional.

Penderitaan dalam hidup, dapat mengakibatkan kekalutan secara mental. Hal ini disebabkan karena kurang cakap, atau kurang ikhlasnya kita sebagai manusia, saat diberikan ujian. Bukannya berusaha mengurangi penderitaan, namun kita malah meratapinya. Hal inilah yang membuat kekalutan mental terjadi. Kekalutan mental menunjukkan gejalanya secara fisik. Seperti pusing, mual, tidak nafsu makan, sakit lambung, dsb. Jika kekalutan mental dibiarkan terus terjadi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa kekalutan mental dapat menimbulkan gangguan jiwa secara mendalam.

Penderitaan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya penderitaan; yaitu, akibat perbuatan buruk oleh diri sendiri, dan ujian dari Tuhan. Terkadang tanpa kita sadari, kita berbuat buruk kepada orang-orang, atau lingkungan sekitar kita. Dan hal itu bisa saja menyebabkan penderitaan baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang banyak. Contohnya, membuang sampah sembarangan dapat menimbulkan banjir, dan karena keegoisan kita, banjir yang terjadi mengakibatkan penderitaan pada orang banyak. Lain halnya jika penderitaan karena ujian dari Tuhan, biasanya terjadi dan menimpa hanya kepada diri kita sendiri sebagai umat-Nya yang berusaha mendekatkan diri kepada-Nya.


Sebagai manusia, sudah menjadi kodrat, bahwa kita harus berjuang demi kelangsungan hidup. Kita tidak boleh menyerah karena berbagai cobaan atau penderitaan yang kita alami. Percaya kepada Tuhan bahwa penderitaan yang kita alami akan membawa kita ke tingkatan iman yang lebih tinggi. Serta, membawa kita ke hidup yang lebih baik. Karena, manusia dan penderitaan adalah lingkaran tanpa batas, yang memiliki keterkaitan tanpa ujung. Jadi, lebih bijaksana bagi kita untuk mempertingkat iman, dan mental agar tidak terkejut saat derita menimpa diri kita.

Senin, 04 Mei 2015

Manusia dan Keindahan

                 Keindahan adalah suatu sifat yang diciptakan oleh Tuhan. Itulah mengapa, keindahan tidak dapat dipisahkan dalam diri manusia. Tanpa kita sadari, banyak sekali bentuk keindahan di dalam hidup kita. Entah itu foto yang kita pajang di tembok rumah kita, pemandangan pepohonan dan rerumputan di halaman kita, bahkan sampai kejujuran yang kita sampaikan; adalah suatu bentuk dari keindahan.
                Keindahan itu sendiri adalah suatu hal yang bersifat universal, dan tidak mengikat, serta bersifat menyeluruh. Contoh: alam, karya seni, bahkan perilaku kita juga dapat menunjukan keindahan. Keindahan itu sendiri disusun oleh beberapa factor, diantaranya kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmetry), keseimbangan (balance), dan perlawanan (contrast).
                Keindahan dapat dinikmati oleh manusia dengan tiga cara. Yaitu secara pendengaran (audio), penglihatan (visual) atau bisa juga gabungan antara keduanya. Keindahan juga bersifat original atau asli. Itulah mengapa karya seni imitasi tidak akan seindah karya seni aslinya. Di zaman sekarang, manusia juga lebih banyak menemukan jenis-jenis keindahan dengan bantuan teknologi. Manusia jadi dapat meng-eksplor keindahan-keindahan yang berada di luar budayanya sendiri.
                 Manusia, tentu saja dapat menciptakan keindahan. Biasanya selalu ada alasan mengapa manusia menciptakan keindahan. Contoh dari alasan mengapa manusia menciptakan keindahan adalah: tata nilai yang telah usang, kemerosotan zaman, penderitaan manusia, dan keagungan tuhan. Banyak juga manusia yang menciptakan keindahan ini untuk mengurangi rasa depresi, juga untuk menunjukan ekspresi.
                Hal-hal tersebutlah yang menunjukan mengapa manusia dan keindahan adalah suatu keterikatan yang tidak aka nada habisnya. Karena manusia butuh keindahan dalam hidupnya, dan keindahan butuh manusia untuk membantu menikmatinya. Tanpa keduanya, tentu saja hidup akan terasa kosong.


Senin, 20 April 2015

Manusia dan Pemujaan

              Manusia, pada dasarnya adalah makhluk ciptaan tuhan yang palings empurna. Diberikan akal untuk berpikir, perasaan untuk merasa, dan raga dengan paling sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaan tuhan yang lain.
            Sebagai rasa syukur kita sebagai makhluk ciptaan tuhan, tentulah kita harus memuja Dzat yang menciptakan kita tersebut. Banyak cara dalam memuja Tuhan, jika seorang Muslim, kita diwajibkan untuk menjalankan sholat lima waktu, berpuasa, menutup aurat, dan sebagainya. Jika seorang Kristiani, kita melakukan ibadah ke gereja.
            Banyak factor mengapa kita melakukan pemujaan terhadap Tuhan. Sebagai seorang muslim, hal ini dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur untuk segala nikmat yang telah diberikan, percaya akan adanya kehidupan serta balasan atas semua perbuatan setelah kematian, serta memohon akan perlindungan untuk segala jenis kejahatan di dunia.
            Pentingkah kita melakukan pemujaan untuk Tuhan kita? Tentu saja penting. Karena dengan menanamkan tentang cinta kasih pemujaan kepada Tuhan, dapat dipastikan hidup kita akan terasa damai dan tenang. Karena kita percaya, bahwa Tuhan senantiasa menjaga kita selalu, dan melindungi kita dari hal-hal yang buruk.
            Jadi, pemujaan kita terhadap Tuhan yang menciptakan kita, adalah suatu kewajiban yang harus kita jalani. Tentu ini adalah suatu hal yang penting dalam hidup kita, karena melakukan pemujaan ini, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik serta mendapat ketenangan baik di dunia, ataupun di kehidupaan setelah mati.

Senin, 13 April 2015

Manusia dan Cinta Kasih

Menurut kamus umum bahasa Indonesia, cinta adalah rasa sangat suka kepada ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta.

Walaupun cinta kasih mengandung arti hampir bersamaan, namun terdapat perbedaan juga antara keduanya, cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan kasih lebih keluarnya. Dengan kata lain, bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.

Dapatkah manusia terpisahkan oleh cinta kasih dalam hidupnya? Tentu saja tidak. Bisa dikatakan, cinta kasih dalam diri manusia merupakan sebuat fitrah dalam hidupnya. Tanpa cinta kasih, tentu saja manusia dapat dikatakan mati.
Salah satu pengertian tentang cinta kasih dituturkan oleh Dr sarlito w sarwono, yaitu cinta kasih terbentuk atas tiga unsur:
     a.     Keterikatan: yaitu perasaan untuk hanya bersama dia, segala sesuatunya adalah dia. Tidak ada yang lain, hanya dia. Selalu berusaha membuat dirinya tersenyum.
      b.      Keintiman: yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dengan dia, yang dilakukan tanpa ada rasa canggung lagi.
    c.   Kemesraan: adanya rasa ingin disayang atau menyayangi, ingin dimanja dan memanjakan, diperhatikan dan memperhatikan, ucapan rasa saying, dan sebagainya.

Namun, Sarwono juga mengemukakan, bahwa tiga unsur cinta diatas tidak sama kuatnya. Selalu ada yang lebih dominan dibandingkan dengan unsure yang lainnya. Cinta seperti ini, dinamakan dengan cinta pincang.

Sumber:
(Nugroho,W,.& Muchji, A. (1996). Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Universitas Gunadarma)

Senin, 06 April 2015

Kenali Budaya Sesungguhnya dengan Membaca

             Ilmu budaya dasar adalah ilmu yang mempunyai cangkupan yang luas serta mempunyai manfaat yang besar. Bahkan, ilmu budaya dapat kita pelajari dari hal-hal kecil yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya: membaca. Pada faktanya, membaca merupakan salah satu pintu untuk mempelajari budaya-budaya, menambah kesenangan dan menambah wawasan kita. Mulai dari novel, hikayat, bahkan prosa, dapat kita pelajari.
                Salah satu contohnya, beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca buku dengan judul “Memoar Seorang Geisha” karangan Arthur Golden. Pasti banyak dari kita yang berpikir bahwa seorang Geisha adalah seorang pekerja prostitusi. Namun, dalam novel yang disajikan oleh Arthur Golden, dikisahkan bahwa Geisha adalah sekelompok gadis yang bekerja untuk menghibur para tentara yang letih sehabis perang pada masanya dengan tarian tradisional, minum teh bersama, dan jauh sekali dari pekerjaan prostitusi.
                Dengan membaca novel Memoar Seorang Geisha ini, kita juga dapat membayangkan pakaian yang mereka kenakan yang sampai sekarang masih sering digunakan di Jepang. Yaitu dengan menggunakan kimono, rambut yang disanggul, riasan yang tebal dan putih, dan bakiak. Serta kita juga dapat mengetahui tentang beberapa kebiasaan di Jepang, salah satunya adalah: upacara meminum teh bersama.
                Dalam novel ini, kita juga diajarkan agar lebih berhati-hati dengan orang di sekitar kita. Karena tanpa kita sadari, bisa saja ada orang yang iri pada kita, dan mengahalalkan segala cara demi menyingkirkan kita. Serta, kita juga diajarkan bagaimana kita harus bersungguh-sungguh dalam berjuan dari nol, serta harus tetap yakin pada cita-cita yang kita pegang dengan teguh. Novel Memoar Seorang Geisha ini benar-benar novel yang tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai Jepang, namun juga memberikan kita motivasi.
                Terbukti bahwa ilmu budaya dasar memiliki ikatan yang kuat dengan membaca prosa, novel, ataupun cerpen. Karena hanya dengan membaca, kita dapat membuka mata kita menjelajah dunia. Bahkan kita bisa saja merubah pandangan kita akan sesuatu yang kita pegang teguh selama ini. Selain menyebabkan kesenangan, membaca menyebabkan kita kepintaran.
                Selamat membaca!

Minggu, 22 Maret 2015

Manusia dan Karakter

          Sifat dan karakter manusia juga tentu saja ditentukan oleh lingkungan sekitarnya. Coba saja perhatikan lingkungan di sekitar kita, masing-masing individu pasti punya kebiasaan atau perilaku yang berbeda satu sama lainnya. Hal ini lah yang membuktikan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara satu manusia dengan budaya yang berada di sekitarnya.
            Alasan mengapa hubungan seorang manusia dan kebudayaannya sangatlah lekat, karena tentu saja manusia membutuhkan suatu budaya agar bisa bertahan hidup. Karena tanpa sebuah budaya, manusia akan kehilangan arah, merasa bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Dan tentunya, permasalahan ini menyebabkan manusia tidak dapat bertahan hidup.
            Inilah yang menyebabkan manusia terbentuk akan sebuah budaya. Karena dengan budaya yang ia anut, menyebabkan dirinya dapat bertahan hidup di lingkungannya. Namun sayangnya, tentu saja kebudayaan suatu daerah memiliki perbedaan dengan daerah yang lain. Misalnya: jika kita hidup di daerah Jakarta, dengan budaya Betawi, yang terbiasa berbicara dengan keras, tentu saja akan terasa berbeda jauh dengan mereka yang hidup di daerah Jawa, yang biasanya berbicara lebih halus dan lembut.
            Selain harus berusaha beradaptasi dengan budaya yang berada di sekitar mereka, manusia juga bisa menjadi sosok yang membawa budaya di daerah sekitarnya. Hal ini tentu saja berhubungan dengan sosok manusia tersebut. Biasanya, orang yang mempunyai jabatan dan juga merupakan sosok yang berpengaruh, akan menimbulkan pengaruh budaya yang cukup kuat untuk orang-orang disekitarnya.

            Seorang kepala desa yang terbiasa mengadakan gotong royong, menjabat di suatu daerah yang memiliki penduduk yang pasif, pasti akan mengadakan acara gotong royong, sehingga penduduk akan menjadi lebih aktif. Ini merupakan salah satu contoh bahwa suatu pengaruh budaya dan manusia dipengaruhi oleh sosok di suatu daerah. Dan tentu saja, ini menyatakan bahwa hubungan manusia dan budayanya, adalah suatu kesatuan yang tidak bisa lepas.

Senin, 16 Maret 2015

Manusia, Hakikat, dan Pilihan Hidup

Manusia, adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Diberikan akal dan logika dalam berpikir, dan diberikan panca indra yang paling sempurna untuk membantu menjalankan keseharian.

            Manusia sendiri, pada hakikatnya adalah makhluk yang dapat memilih jalan apa yang harus ia tempuh di dalam hidupnya. Manusia dianugerahi berbagai macam keistimewaan yaitu; makhluk yang dapat menentukan pilihan, makhluk yang bermoral, dan makhluk yang dapat berusaha.

            Hakikat manusia tentu saja merupakan sudah tertanam dari lahir, namun tidak semua manusia memilih jalan yang sama seperti yang kita tempuh saat ini. Itulah mengapa sebabnya banyak sekali manusia dengan sifat yang beragam, dari yang baik, hingga yang buruk. Dan hal ini, tentu saja, dipengaruhi oleh lingkungan hidup sekitar kita.

            Hakikat manusia juga menjadikan manusia sebagai makhluk yang tidak pernah puas akan hidupnya, mereka selalu mencari dan berusaha lebih dan lebih sesuai yang mereka mau. Hal ini adalah suatu sifat yang baik, mengingat bahwa manusia mempunyai keinginan untuk mejadikan hidupnya lebih baik, serta berusaha menjadikan tempat tinggal mereka menjadi lebih layak.


            Intinya, manusia dianugerahi kemampuan untuk selalu membenahi hidupnya. Hakikat Manusia itu sendiri mungkin ditujukan agar manusia selalu berusaha memperbaiki diri sendiri.

Senin, 09 Maret 2015

Manfaat Belajar IBD

Ilmu Budaya Dasar adalah ilmu yang memperlajari berbagai macam budaya atau kebiasaan nenek moyang untuk beberapa tujuan tertentu. Ilmu Budaya Dasar menjadi suatu hal yang penting untuk dipelajari untuk kelangsungan hidup. Karena bukan hanya menambah wawasan, namun juga mempelajari kebiasaan budaya seseorang.

Berikut adalah pengertian Ilmu Budaya Dasar menurut para tokoh:

a.      Koentjaraningrat : kebudayaan antara lain berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari budi pekertinya.
b.      C.A.Van Peursen : kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap otrang, dan kehidupan setiap kelompok orang-orang, berlainan dengan hewan-hewan, maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah alam, melainkan selalu mengubah alam.
c.       A.L Krober dan C.Kluckhon : kebudayaan adalah menifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya.

Pentingnya memepelajari Ilmu Budaya Dasar akan terasa saat memasuki lingkungan kerja. Karena Ilmu Budaya Dasar membuat diri kita menjadi pribadi yang lebih peka, lebih memahami bahwa kondisi setiap orang berbeda. Selain itu, Ilmu Budaya Dasar juga membuat kita lebih mudah untuk diterima dalam masyarakat. Karena kita bisa mempelajari bagaimana cara beradaptasi.


Sumber:

(Nugroho,W,.& Muchji, A. (1996). Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Universitas Gunadarma)

Minggu, 04 Januari 2015

Masyarakat Kota vs Mayrakat Desa

Jika kalian mendengar frase "Masyarakat Kota" atau "Masyarakat Desa", apa yang terbesit di benak kalian? Apakah kemajuannya? Atau adat istiadat? Atau sopan santunnya? Tentu saja dari nama yang berbeda, terdapat juga definisi dan ciri-ciri yang berbeda antara masyarakat kota dan desa.

Berikut ini adalah Pengertian masyarakat desa dan kota dari beberapa ahli:

Masyarakat Kota 

1. Wirth
     Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat, dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.

2. Max Webber
     Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.

3. Dwight Sanderson
      Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.

Masyarakat Desa

1. R. Bintarto
     Desa adalah perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik, serta kultural yang terdapat di suatu daerah dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.

2. Bambang Utoyo
     Desa adalah tempat sebagian besar penduduk yang bermata pencaharian di bidang pertanian dan menghasilkan bahan makanan.

3. Rifhi Siddiq
     Desa adalah suatu wilayah yang mempunyai tingkat kepadatan rendah yang dihuni oleh penduduk dengan interaksi sosial yang bersifat homogen, bermata pencaharian dibidang agraris serta mampu berinteraksi dengan wilayah lain di sekitarnya.


Perbedaan antara Masyarakat Kota dan Desa adalah sebagai berikut:

Kota:
. Warga kota pada umumnya mendapatkan pekerjaan lebih banyak
. Perubahan-perubahan tampak nyata di kota karena sangat berpengaruh dari budaya luar
. Lebih sering terkena oleh dampak globalisasi

Desa:
. Warga pedesaan sering sekali bergotong-royong ketimbang harus individualisme
. Fasilitas-fasilitas masih jarang terdapat di pedesaan
. Akses pedesaan yang terpencil susah untuk ditempuh

Menurut saya, mengapa masyarakat pedesaan yang mayoritas adalah petani tidak mau meneruskan pekerjaannya sebagai petani adalah; karena imbalan yang mereka dapatkan dari pekerjannya itu tidak setimbang dengan tenaga yang mereka keluarkan. Lalu kemungkinan mereka tidak merasa dihargai karena kurangnya perhatian atas pekerjaan mereka, padahal mereka memegang peranan penting di negeri ini. Serta maraknya sayuran atau buah impor kemungkinan adalah salah satu faktor mengapa mereka enggan untuk menjadi petani lagi.


Sumber:
http://about-interesting.blogspot.com/2013/01/perbedaan-masyarakat-kota-dan-desa.html
http://hedisasrawan.blogspot.com/2014/07/16-pengertian-desa-menurut-para-ahli.html
http://yohaneswilliam.blogspot.com/2012/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html#.VKj6ntKsXsg



Pelapisan Sosial di Indonesia

Pelapisan sosial merupakan gejala yang bersifat universal. Kapanpun dan di dalam masyarakat manapun, pelapisan sosial pasti selalu ada. Pelapisan sosial tidak terjadi dengan sendirinya. Pelapisan sosial terjadi karena didukung oleh beberapa faktor, diantaranya;

1. Ukuran Kekayaan.
2. Ukuran Kekuasaan.
3. Ukuran Kehormatan.
4. Ukuran Ilmu Pengetahuan.

Pelapisan sosial di Indonesia dapat dilihat dengan jelas. Hal ini dikarenakan masyarakat di Indonesia sering kali berpenampilan yang dapat menunjukkan ukuran kekayaan, kekuasaan, dan kehormatannya. Contoh: seseorang yang terlihat lebih mampu dalam segi materi, pasti akan berpenampilan lebih mewah, dibandingkan dengan seseorang yang biasa aja. Ukuran-ukuran faktor pelapisan sosial tersebut juga dapat dilihat dari bagaimana seseorang bergaul, berbicara, dan berperilaku dalam kesehariannya.

Banyak kasus yang terjadi akibat pelapisan sosial ini, kebanyakan kasus dari pelapisan sosial ini adalah dirugikannya masyarakat yang dianggap "rendah". Salah satu contohnya adalah sebagai berikut:
Di suatu rumah sakit, terdapat dua pasien dengan keluhan yang sama. Yang satu adalah masyarakat dari kalangan "atas" dan yang satu lagi adalah masyarakat dari kalangan "bawah" yang menggunakan kartu layanan sosial. Dan kemungkinan besar orang yang akan dilayani lebih dulu adalah masyarakat dari kalangan "atas" yang tanpa menggunakan kartu layanan sosial. Hal ini berdampak kepada masyarakat dari kalangan bawah yang harus menunggu lebih lama untuk pelayanan rumah sakit.

Hal ini lah yang terkadang harus dihindari dari adanya dampak pelapisan sosial. Padahal yang seperti kita tahu, tidak ada perbedaan dari semua manusia.


Sumber:
http://gfebriani18.blogspot.com/2012/10/pelapisan-sosial-dan-kesamaan-derajat.html
http://raullycious.wordpress.com/2011/11/22/pengertian-pelapisan-sosial-dan-aspek-aspek-positif-dan-negatif-dari-sistem-pelapisan-sosial/
http://raullycious.wordpress.com/2011/11/22/pengertian-pelapisan-sosial-dan-aspek-aspek-positif-dan-negatif-dari-sistem-pelapisan-sosial/