Minggu, 29 Mei 2016

Selamat hidup!

Hari ini aku dikejutkan oleh satu postingan dari kamu, orang yang selama ini aku perjuangkan.
Wow.
Menakjubkan.
Ternyata dalam hitungan hari, kamu bisa berubah seperti ini.
Lupa, minggu lalu kamu bilang apa?
Menjilat ludah sendiri? Aku kira kamu sudah biasa.

Percayalah, bukan rasa sedih yang aku terima.
Kamu tahu benci? Atau sakit?
Ya tentu saja aku merasakannya!!!
Terlebih untuk seseorang yang aku perjuangkan mati-matian didepan keluarga dan temanku.
Tak usah kau beralaskan ini karena keluarga.
Bohong.

Pada awalnya kau memang sudah cinta dirinya.
Tapi aku terlalu bodoh untuk percaya kata manismu untuk kembali.
Ah aku ingin cinta itu.
Tapi yang aku percaya hanyalah seorang pembohong.
Kasar? Oh tidak.
Coba kau lihat dirimu. Pantas kah kubilang kau pembohong?

Tapi aku ikhlas. Lebih mudah menerima.
Karena dari awal aku juga tidak terlalu yakin masih merasakan yang sama atau tidak.
Aku hanya mengikuti ego.
Egoku yang kuat untuk dirimu yang lemah berkomitmen.
Tentu saja tidak akan bersatu.

Diriku ini keras. Harus dipasangkan dengan orang yang keras.
Terutama dalam berkomitmen.
Tapi, untuk disandingkan dengan dirimu yang tidak bisa menjaga ucapan?
Kukira apa yang terjadi sekarang sudah sangat tepat.

Aku tidak ingin lagi bermain-main dalam hubungan.
Aku sibuk membenahi studi dan kegiatanku.
Jadi kalau kamu mau main-main, silahkan saja.

Bagiku, penyesalan memang selalu ada di akhir.
Mumpung belum menyesal, maka nikmatilah.
Tapi saat kamu sadar, tengoklah kebelakang.
Kau hanya akan bisa mengenang senyumku.
Sedang diriku?
Aku sudah beranjak pergi mulai hari ini.
Berjalan jauh melampauimu.

Lihat punggungku.
Itu adalah punggung yang rela tercabik demi melindungi dirimu.
Tapi sekarang aku tidak ada untuk melindungimu.
Aku didepan, kau melihat punggungku.
Lukaku mulai pulih dan kau hanya akan melihatnya.

Roda memang berputar.
Saat kau di atas, kau bebas.
Saat kau di bawah, kau tercekik.
Dan jangan kau cari aku lagi.
Jangankan peduli.
Ingat dirimu saja aku lebih baik mati.

Jadi, selamat tinggal.
Aku tidak akan mendoakanmu menyesal.
Hanya saja, penyesalan itu akan datang.
Entah kapan.
Persiapkan dirimu.

Selamat tinggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar